Welcome,Nya~

Rabu, 06 April 2011

Vocaloid-Soundless Voice


Soundless Voice

Lyrics: HitoshizukuP
Composition:
HitoshizukuP
Arrangement:
HitoshizukuP
Vocal:
Kagamine Len

seijaku ga machi wo
tsutsumu yoru ni
furisosogu shiro
kazashita te no hira ni
fureta shunkan ni toketeku
hakanai HITOKAKERA

OTO mo naku tsumoru
HIKARI wo
atsumete kimi wa warau
ima donna OTO?
kotaettate kimi wa mou nani mo
KIKOENAI

KURUSHItte ittekure yo
SABISHIItte ittekure yo
mukae ni iku donna tokoro he mo…

ikanai de yo idoko he mo
oitekanai de… bokura zutto
futari de hitotsu darou…?

furitsumoru yuki to tomo ni
kieteyuku kimi wo
dakishimeru koto shika dekinai yo

kanau nara mou ichido dake
kimi no koe ga kikitai
MOU ICHIDO TADA ICHIDO DAKE…
YONDE YO…

utsurotte samayou hitomi ni
utsutta HITOSHIZUKU

haiiro no SEKAI
tomatta mama yuki dake ga sotto
furisosogu

tsumetakunatteiku yo
modoranai sono KOE
tokeau koto mo yurusarenai
ore no KOE wo kiite yo mata waratte yo…
namida sae karehate
kimi no koto
TOKASENAI…

kanau nara kono koe
subete ubaisatte
itoshii hito he to ataetekudasai

KIMI GA INAI SEKAI NI tada hitori
nokosareru no nara
konomama…
issho ni…
KUCHITEIKU yo

AISHITERU tada sore sae
ienai mama
towa ni
tozasareteyuku
kimi to no SEKAI

sakende mo todokanai yo
kimi no KOE wa mou… INAI

furitsumoru yuki yo dou ka
furitsudukete zutto
konomama subete ubaisatte yo

hakanai KOE no INOCHI goto
kakikeshite SUBETE

(katari hakanai inochi wa ten ni nobori toketeyuku yuki no shiro ni somaru
nani mo nokoranai yo tamashii sae NANI MO KAMO…)

shiroku…


Translation

In the night every sound was put on mute, everything was quiet
The white snow floats gently down
Hands raised up towards my face
The snow that was flowing, melts in an instance as more falls
What a sad way it all ends
Soundlessly the snow falls to the ground
You play with them in piles and sweetly smile in the white
" I wonder what my voice sounds like now...? "
It won't matter if I say something, it's not like you could hear anything
Tell me if you're in any pain, tell me if you're feeling lonely
No matter what, I'll always find you someplace
Don't leave me like this, please, I beg you, don't go
I thought that we shared only one soul together?
The snow covers every bit of anything and you slowly disappear
There's nothing I could possibly do besides embrace you
I ask you one thing, if you could, let me hear your voice, one more time
(Maybe just this once, maybe just this one time)
Please speak to me...
Glazed over eyes that don't work anymore, it's not like they can see a thing now
The dark world is motionless
Everything's gone
Everything doesn't move or make a sound, unless it be the snow
You're body has now become cold, you're voice is long gone
I can't do anything, I can't even melt away with you
Please hear all of my words, please smile at me again
My tears no longer exist, I can't use them to make you melt away
I ask you one thing, if you could, take my voice away from me
And give it to the person I hold dear to my heart
If I'm left all alone in this huge world without your presence here
(Let me disappear)
Along side your body...
I love you with my being, and now there's no way to tell you
This world of ours is slowly crashing down, it's all fading
Even if I scream with everything I have, you nor your voice will return to me
Aaaaah!
Falling snow that is ever so gentle, I beg for you to never stop falling
I want you to take me with that person I hold dear
Please allow everything to wither away by my voice deepened by sadness
(I hope to make it all)
Turn to white...



For me, it's really good and inspiring...

A Fragile Life

A Fragile Life

Walk...
Walk...
Walk...

I keep on walking...

In this life....

This fragile life I’m living...
Getting many experiences,
Sometimes my body can’t hold...
I think I’ll break soon enough...
My heart is made of glass, I thought...

I keep on walking...

walking...
Sometimes I’m running...
Not running away, but I wanted to fasten my life a bit...
I slowed...
It’s no use... I’ll just walk on my own pace...
Walking... Walking...

I stopped.

Looking around, looking back...
For me, Sometimes it’s best to look back...
I might forget something...
Something important to me...

and I walk on...

Walk...
Walk...
Walk...

Until I stopped.
Forever.





Forever indeed.

Wings


Yellow Wings

She has a delicate yellow wing
Soft, fragile yet beautiful
Her wings shine upon me
Yet, I turned to my shadows

Her wings was soft and graceful
Nice and calm,
Sometimes I can fell the warmth
Of those small yellow wings...

Green Wings

Another has a green wing,
Those fresh colors blur my eyes.
Why someone that great have those large green wings ?
Those fresh, elegant, antique green wings...

Her wings are long,
It spread through the world as she opens it.
It left me in the shadow
Once more I hide...

Red Wings

She smiled with her beautiful red wings
Her strong and brave attitude saddened me...
Her wings are wide and powerful
Unlike myself who was a weakling...
Hiding in the shadows...

Her beautiful soft wings gave the dawn a ray...
Her wings gave color to the world
I sat down alone,
Looking at the magnificent wings...
Then I look down on mine...

Grey Wings

My wings are different...
It’s between the color black and white.
Yes, my only Grey wings...
I never envied other wings...
Yet I hide in their shadow...

All of them are beautiful...
Including my different Grey wings...

My wings are not made by clouds,
My wings aren’t made of feathers,
My wings don’t soar high or spread wide...
I have metallic wings...

That doesn’t protect from above...
But from under...


That’s why I smiled.
I am different... but I know I play an important role on my life.
Myself and My Wings...

Sabtu, 26 Februari 2011

Jumat, 18 Februari 2011

Etique Chapter Six

"Sepertinya hubungan kalian sudah baik. Ini hadiah selamatan..." seorang (yang menurut perkiraan Sofiya seorang etique) berambut panjang hitam membawa hadiah dipita hijau kecil.

"Ah~ selamat datang tuan Astrid~ " Faye menjawab ringan."Ah~ Sofiya...perkenalkan... dia tuan Astrid Adriaan. Penyihir terbaik dalam sejarah etique, dan yang membuatku menjadi Etique..." jelasnya ringan.


"Jadi... dia adalah tuan Astrid ? Sang penyihir legendaris Etique dan…ermm…" SofĂ­ya yang melihatnya hanya tersenyum.

'Simpan keformalannya untuk sang raja. Saya hanya orang biasa yang tidak memerlukan penghormatan apapun, walaupun tidak ada salahnya kau menghormatiku, Sofiya..." Astrid menjawab ringan.

Faye menidurkan tuannya. Tidak disangka Sofiya, Ryuvan tertidur dengan sedikit dibelai oleh Faye. Hmm... apa mungkin Faye punya tangan ajaib ? Habisnya segala yang ia lakukan selalu terlihat sempurna.

"Haha... Faye bukanlah anak ajaib ,Sofiya." Jawab astrid cepat bagaikan membaca pikirannya. " Dia...hanya... memiliki ciri khas seorang etique..." sambungnya.

" Ciri khas? " Sofiya mulai bertanya-tanya.

" Hmm... Perfeksionis , anggun, murah senyum, tinggi lebih dari 170 cm, senyuman manis, skill tersendiri, tangan yang cekatan dan..." Astrid tersenyum.

"Sorot mata yang tajam..."dirinya terdengar puas mengatakannya.

Sofiya hanya menganguk-angguk bingung. Apa semua Etique memiliki mata yang tajam? Tuan Ryuvan sebenarnya memiliki mata yang lembut dan dingin. Yukki bermata bocah yang berapi-api, err...walau agak mesum. Tuan Astrid inipun matanya ditutupi oleh rambutnya. Mungkin benar kalau mata Faye tajam dan sipit, mungikin yang tuan Astrid ini katakan adalah tentang Faye?

"Ah~ saya pinjam kolam renangnya lagi,oke? " Astrid langsung berdiri dan mendekati Faye. "Kalau bisa kolam renangnya yang hangat..." Astrid memegang punggung Faye. Sofiya mendadak secara refleks menjauh.

"Sayangnya kolam renang hari ini agak dingin,tuan Astrid. Saya akan memanaskannya dahulu." Faye beranjak dari tempatnya dan keluar bersama dengan Astrid. Faye menengok sebentar. "Ah~ Sofiya jagalah tuan Ryuvan. Aku akan kembali setelah memanaskan kolam untuk tuan Astrid. Tenang~ tuan Ryuvan ngga gigit..."

Sofiya langsung merinding. G-g-g-gigit?


Ryuvan bangun. Hal ini sangat tidak diinginkan Sofiya. Ia masih takut denagn tuannya ini apalagi.. Faye mengatakan dia mengigit ? Ryuvan memegang kepalanya yang mengatakan satu patah kata " Hei..."

Sofiya gagap. Apa yang harus ia lakukan?

"Faye... ambilkan bajuku..." Sepertinya tuannya ini tidak tahu kalau Faye sudah pergi. Yah, karena Sofiya disuruh menjaga tuannya, ia membuka lemari pakaian Ryuvan dan hendak memilih sepasang baju tetapi...

"Baju" Ryuvan jas semua. Hampir semua Etique ( terkecuali Astrid ) yang dilihatnya memang memakai jas tetapi, jas ini sangat... bahannya...warnanya...BAGUS SEKALI. Sofiya bingung ingin memakaikan apa untuk tuannya. Ia cocok dengan semua baju dilemarinya!

"Cepatlah... tumben Faye tidak menjawab" Ryuvan mulai mengigau. Tidak seperti biasanya ia menyuruh-nyuruh. Mungkin ini kebiasaan saat bangun tidur? Sofiya langsung memilih baju yang menurutnya cocok untuknya. Ja hitam biasa dengan jahitan berbentuk kupu-kupu biru di bagian bawahnya. "ini...t-tuan..." Sofiya memberikannya.

Ryuvan hanya mengangguk pelan dan beranjak dari tempat tidurnya. Ia mulai membuka jasnya dan mencopot kancingnya. Loh? Apa yang ia ingin lakukan ?. Ryuvan mendadak hanya memakai satu setel kemeja dan mulai membuka kancingnya. HAH? Ia ganti baju di sini ?

"HENTIKANNN! " sofiya mendadak berteriak kencang. Ryuvan bangun dari halusinasinya.

"Eh? Sofiya? " tuannya berkata demikian. Beberapa detik kemudian... "SOFIYA?"

LOH ? NGAPAIN DI SINI? ANDA INGIN LIHAT SAYA G-GANTI- !"Muka Ryuvan mendadak merah. Sofiya langsung mengacir dari kamar itu dan Ryuvan langsung menutup pintu kamarnya.

Keduanya mendadak memerah.


Di kejauhan, Faye mendengar teriakan Sofiya dan hanya tersenyum. Astrid yang sudah memompa ban karet mulai menggenang-genang di kolam yang telah disediakan. "Ah~ tuan Ryuvan~ makanya lihat dulu siapa yang melihat anda ganti baju~ b.o.d.o.h~ " Faye tersenyum.

Astrid juga ikut tersenyum. "Maid baru milikmu itu lucu sekali. Kudengar bahkan Ryuvan rela bertarung deminya dengan kakaknya. Apakah menurutmu, ada benih-benih perasaan tertentu yang dapat muncul? "

Faye hanya tertawa pelan. " Mungkin. Segalanya ada kemungkinan,loh~ Aku juga mungkin, bukan? "

Keduanya tersenyum. "Ah~ mau teh lagi tuan Astrid? Hari ini untuk kedatanganmu saya menyiapkan teh Auroria Sweetpea Temptatist"

"Gracie... Auroria untuk kelembutan , Sweetpea akan membawa rasa yang kental dan Temptatist sebagai finishing karena membuat kecanduan, bukan?"Astrid tersenyum menerima teh buatannya.

"Hmm..." Faye mengangguk.

"Teh yang sempurna untukku..." Astrid meminumnya.

"E-e-eh...tuan R-R-ryuvan...su-su -sudah selesaikah ?" Sofiya mencoba bertanya.

Tidak ada jawaban.

"T-Tu-Tuan Ryuvan... Maaf…"Sofiya mencoba melembutkan suaranya.

Pintu terbuka.

"Tuan Ryuvan ? " Sofiya mengintip. Ryuvan ternyata berdiri di depan pintu yang dibuka kecil olehnya. Ia menatap tajam kepada sang maid. " aku yang minta maaf. Seorang Etique eharusnya dapat mengendalikan diri. Saya harap anda dapat memaafkan saya. Saya memiliki kebiasaan yang mungkin agak buruk ketika bangun tidur. Kumohon..."

Sofiya merasa lega. " Maafkan aku juga dan aku memaafkan tuan." Sofiya tersenyum. Tuannya juga tersenyum halus. Ia mempersilahkan Sofiya kembali masuk ke ruangannya. " Err... dapatkah kau menyisirkan rambutku ? Saya dengar seorang manusia terutama perempuan dapat menyisir rambut dengan sangat baik dan rapi..." Ryuvan memulai pembicaraan.

Sofiya terseyum. " Saya lakukan apa yang saya bisa tuan..." Ia mulai mengambil sisir perak milik Ryuvan dan memegang rambut Ryuvan. Waah... halus sekali... Srek! Srek! Srek...

"Sekalian ikat rambutku... terserah mau bagaimana..."Ryuvan menambahkan. Sepertinya dia ...senang rambutnya dipermainkan. Sofiya menangguk dan mengambil pita biru yang ada di tangan Ryuvan. Pita tipis halus itu sepertinya memang cocok dipakai dengan jas itu. Mungkin satu set...pikir Sofiya.

Sofiya mengikat rambutnya jauh ke Ryuvan sangatlah panjang sampai menjuntai ke punggung setelah diikat, tetap saja menjuntai ke bawah. Ryuvan tersenyum melihat hasil ikatannya di kaca. Setelah ia menengok, Sofiya terkejut. Wajahnya mendadak mirip sekali dengan kakaknya, Yukki.

"Ya, aku mirip dengan kakakku kalau rambutku pendek. Kita hanya kembar dengan berbeda sifat, mungkin. Walau kita berbeda sekitar 30 tahun dunia manusia..." Ryuvan tersenyum datar.

Keingintahuan Sofiya mendadak merambat dan membuatnya bertanya-tanya. "Bolehkah aku bertanya, berapakah umur tuan Ryuvan dan tuan Yukki ? "

Ryuvan hanya tertawa sejenak. "Haha.. sepertinya saya belum memberitahu anda. Saya berumur 19 tahun, Faye 21 tahun dan Yukki, 47 tahun. Kita semua masih muda, terutama saya. Astrid baru masuk ke umur Etique menengah yaitu 200 tahun. Mungkin bisa dibilang... kita generasi muda." Ryuvan tersenyum.

Sofiya melotot tidak percaya. Astrid yang terlihat seperti pemuda berusia 21 tahun itu...berumur... dua abad ? Faye yang terlihat jauh lebih muda dari Ryuvan ternyata lebih tua? Walau mungkin itu yang membuat Ryuvan tetap menghormatinya.

"Umur Sofiya berapa? " tanya Ryuvan tanpa keformalan macam manapun.

"Errr... saya tujuhbelas tahun..." Jawabnya gugup.

Ryuvan terpana. "Ah... kau berumur menengah untuk seorang manusia , sayangnya tidak untuk Etique." Ryuvan tersenyum. Sofiya memerah. Ia gugup berada di dekat tuannya mendadak.


"Ah.. saya melupakan satu hal. Tidak terlalu penting sih..." Astrid kembali mengapung-apung di kolam hangat yang bahkan bukan miliknya. Meminum teh yang hangat dan bersantai.

"...dan apakah itu,tuan Astrid? " Faye tersenyum pelan.

"mmm... seseorang menitipkan pesan padaku bahwa ia akan datang ke manor ini..." Astrid menjawab dengan ia menaruh bubuk aneh ke dalam kolam hangat tersebut. Warna airnya berubah menjadi hijau muda bening.

Faye mulai mengerutkan keningnya. "Siapakah "orang ini" yang sampai harus berpesan kepada tuanku akan kedatangannya?" Faye tahu ini masalah. Yang biasanya berpesan dahulu sebelum datang biasanya adalah seorang bangsawan ternama ataupun berrangking tinggi di sejarah Etique. Terkecuali Astrid dan Yukki yang datang seenaknya.

"Ah~ dia ngga penting.." Astrid menjawab pelan.

"Seorang count?" tanya Faye.

"Bukan..." jawabnya simpel.

"Seorang duke , mungkin ? " Faye menebak lagi.

"Sedikit lebih tinggi..."

"Anggota menteri kerajaan,kah ? " Faye bertanya.

"Mulai dekat..."

Faye hanya bisa memilih satu pilihan lagi. Sang raja tidak mungkin datang ke manor kecil ini dan anggota yang ditebak Faye sudah salah semua berarti... Faye menghela nafas dan mulai bertanya lagi. "Apakah dia tuan Simone Surcorde dengan Praskevy Surcorde?"

"Tepat…"Astrid menepuk tangannya.

Faye langsung terbakar amarah. " Tuan Astrid dapat memberitakannya sejak tadi! Kapan dia akan datang ? " Faye langsung berteriak memarahi Astrid.

" Hmm... perkiraanku, lima menit lagi ? " Astrid tersenyum. Faye bergegas menuju ruangan Ryuvan. Ia saking tergesa-gesa ia melupakan estetikanya sebagai seorang Etique. Ia bernafas dengan sangat tergesa-gesa. Ryuvan beranjak dari tempat tidurnya.

"Tuan Simone akan datang..." jawab Faye singkat.

Mendadak pintu besar manor tersebut diketuk.

"... maafkan saya, tepatnya tuan Simone sudah datang..."

Ryuvan hanya dapat tersenyum hambar. Ia tidak mengharapkan kedatangan sang putra kerajaan secepat itu. Ia merapikan bajunya dan berjalan menuju ruang tamu." Kutunggu dia di sini, Sofiya, mohon jangan terlalu takut. Tuan Simone dan Praskevy agak... aneh di depan orang baru..."Ryuvan memperingatkannya.

Sofiya hanya menangguk. Dalam hatinya ia bertanya-tanya, macam apakah Simone dan Praskevy ini ?

WInGS Page



awesome page for awsome ppl...

WInGS

Kamis, 17 Februari 2011

Austria


The real one now... :D
Pallas Athene Fountain Parliament Building Vienna Austria

Pic: Google...